Alhamdulillah, alhamdulillah, walhamdulillah. Allah Ta’ala
memiliki banyak cara untuk membela hamba-Nya. Ketika manusia
(seindonesia) berkonspirasi untuk menghancurkan nama baik dan kehormatan
Al Ustadz Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo rahimahullah; maka Dia
memiliki cara-Nya untuk memuliakan beliau. Melalui buku “Hari Terakhir
Kartosoewirjo” yang ditulis oleh Fadli Zon; melalui pameran foto-foto
seputar eksekusi beliau pada tahun 1962; melalui bedah buku dan
seterusnya; alhamdulillah akhirnya terkuaklah banyak fakta sejarah yang
selama ini disembunyikan.
Sebagian besar manusia (Muslim) di Indonesia selama ini
berprasangka buruk terhadap sosok almarhum SM. Kartosoewirjo. Mereka
melontarkan tuduhan-tuduhan tak berdasar. Alhamdulillah, dengan segala
pertolongan Allah banyak sisi suram “cerita sejarah” itu yang harus
dihapus, diganti kisah lain yang lebih benar dan tidak dusta. Tampaknya
bangsa Indonesia harus menulis ulang ulasan sejarahnya seputar sosok SM.
Kartosoewirjo dan gerakan Daarul Islam-nya.
Berikut ini poin-poin apresiasi dan analisis yang bisa kami sampaikan, terkait pengungkapan 81 foto-foto
eksklusif yang semula merupakan rahasia negara itu. Bentuk apresiasi
ini adalah upaya nyata untuk mulai menulis sejarah tokoh Islam dengan cara
pandang yang benar; meskipun musuh-musuh Islam alergi terhadapnya.
Kalau mereka alergi, setidaknya kita perlu berkata jujur kepada kaum
Muslimin dan kemanusiaan manusia di dunia.
[1]. Imam SM. Kartosoewirjo ternyata adalah pribadi
yang sederhana, biasa, tidak berbeda dengan manusia-manusia Indonesia
yang lain. Ada yang mengatakan, sosoknya seperti petani. Begitu pula,
keluarga beliau juga sederhana, termasuk istri dan anak-anaknya. Namun
harus diakui, beliau adalah sosok pemimpin revolusi Islam terbesar di
Indonesia. Gerakan Daarul Islam (DI) merupakan gerakan politik-militer
yang paling luas pengaruhnya. Ia berpengaruh di Jawa Barat, Jawa Tengah,
Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimatan Selatan, hingga Nusa Tenggara.
Dibandingkan gerakan PKI, ia hanya dominan di Jakarta dan Jawa Timur
saja. PRRI/Permesta hanya di Sumatera Barat, RMS hanya di Maluku, dan
seterusnya.
[2]. Sampai akhir hidupnya, SM. Kartosoewirjo
konsisten dengan garis perjuangannya. Beliau membela perjuangannya,
sampai di depan regu tembak. Hal ini mengingatkan kepada tokoh-tokoh
Ikhwanul Muslimin yang pada tahun 60-an banyak dieksekusi mati oleh
rezim Gamal Abdul Naser. Imam Daarul Islam itu tidak pernah mundur dari
sikapnya dan bersedia mempertanggung-jawabkan perjuangannya sampai titik
darah penghabisan. Ketika diputuskan dia harus divonis mati, pihak
pengadilan menawarkan dirinya untuk pergi kemana saja, sekali pun ke
Amerika; selagi tidak ada urusan politik. Namun beliau menolak, karena
yang dia inginkan adalah: segera bertemu Allah untuk memastikan apakah
perjuangannya benar atau salah? Lihatlah manusia yang fisiknya tampak
ringkih ini; dia sangat kuat dalam memegang prinsip dan tidak menyesal.
Berbeda dengan umumnya aktivis-aktivis Islam yang semula idealis, lalu
perlahan-lahan menjadi pragmatis dan menjual agama dengan harga murah.
Nas’alullah al ‘afiyah.
[3]. Dalam kapasitasnya sebagai “musuh negara” yang
dianggap paling berbahaya; ternyata SM. Kartosoewirjo tampak dihormati,
dihargai, dan dimuliakan oleh orang-orang yang berurusan dengan
eksekusinya. Mereka tampak hening, berdiri rapi, penuh khidmat
memberikan penghormatan terakhir. Setelah wafat, beliau dimandikan
dengan air laut, lalu dishalatkan dan dimakamkan secara Islami. Bahkan
sejak diantar ke Pulau Ubi, beliau diperlakukan secara baik. Hal ini
menandakan, bahwa orang-orang yang berurusan dengan eksekusinya tidak
yakin sepenuhnya, bahwa beliau salah. Kalau mau jujur, SM. Kartosoewirjo
adalah “anak kandung” dari TNI (dulu BKR atau TKR). Beliau itu semula
berada dalam barisan TNI, berjuang menjaga wilayah Jawa Barat.
[4]. Dalam segala kesederhanaannya, ternyata
kharisma SM. Kartosoewirjo sangat menakutkan bagi rezim yang berkuasa
(Orde Lama dan Orde Baru). Mereka begitu ketakutan, sehingga harus
menyembunyikan dimana lokasi eksekusi; apakah di Pulau Onrust atau di atas
kapal laut? Bahkan di Pulau Onrust, mereka buat dua pusara palsu,
dengan label “makam Kartosoewirjo”. Sebegitu takutnya mereka, sehingga
harus membuat sandiwara-sandiwara seperti itu. Bahkan Pulau Ubi dimana
eksekusi diadakan dan pusara SM Kartosoewirjo ada disana; pulau itu
kalau laut saat pasang, tidak akan tampak di permukaan. Masya Allah,
sebegitu takutnya musuh-musuh politik Imam Darul Islam itu; mungkin
mereka nyadar, kalau dirinya memang salah.
[5]. SM. Kartosoewirjo rahimahullah dituduh dengan 3
perkara, yaitu: a. Beliau melakukan pemberontakan; b. Beliau berniat
membunuh Presiden Soekarno; c. Beliau ingin lepas dari Indonesia. Atas
tuduhan ini, beliau akui tuduhan pertama, dan beliau tolak dua tuduhan
terakhir. Dengan demikian, kita tidak boleh menyimpulkan bahwa gerakan
Daarul Islam bertujuan separatisme (memisahkan diri dari NKRI). Daarul
Islam tetap dalam lingkup keindonesiaan dan tidak ingin memisahkan diri
dari NKRI. Kalau mau dikembangkan secara politik; mestinya DI/TII jangan
dituduh sebagai pemberontak; tapi
anggaplah ia sebagai aspirasi politik sebagian kaum Muslimin yang
menuntut otonomi, untuk mengatur wilayahnya dengan sistem Islam. Kalau
daerah lain ingin memakai sistem sekuler atau non Islami, ya itu silakan
saja. Hanya saja, berikan otonomi kepada Daarul Islam untuk mengatur
wilayahnya dengan sistem Islami. Bukankah dalam sistem federasi hal
semacam itu memungkinkan terjadi? Atau setidaknya dalam bentuk otonomi
khusus.
[6]. SM. Kartosoewirjo dihukum mati berdasarkan
keputusan pengadilan, yang dikukuhkan oleh persetujuan Presiden
Soekarno. Soekarno sendiri sejatinya adalah mantan teman beliau, sebagai
sesama murid HOS. Cokroaminoto di Surabaya. Bagi Soekarno, mengenyahkan
kawan lamanya adalah keutamaan, meskipun yang bersangkutan berjuang
demi Islam.
[7]. Sebelum dieksekusi mati, SM. Kartosoewirjo
mengajukan 4 tuntutan, dan hanya tuntutan terakhir yang dipenuhi.
Pertama, beliau ingin bertemu dengan para perwira bawahannya; Kedua,
beliau ingin agar eksekusinya disaksikan pengikutnya atau keluarganya;
Ketiga, beliau ingin jenazahnya diserahkan kepada keluarganya; Keempat,
beliau ingin bertemu keluarganya, untuk terakhir kalinya. Ternyata,
hanya tuntutan terakhir yang dipenuhi. Beliau sudah tua dan lemah;
beliau sudah sedia dihukum mati; beliau tidak menuntut ingin
kesana-kemari; tetapi itu pun beliau masih dizhalimi dengan tidak
dipenuhi hak-haknya sebagai manusia yang wajar. Sekedar dimakamkan oleh
keluarganya saja, tuntutan itu ditolak.
[8]. Bisa jadi keputusan Pemerintah RI untuk
menghukum mati SM. Kartosoewirjo dianggap benar (menurut hukum positif
dan vonis pengadilan). Tetapi mengapa di luar itu semua, SM.
Kartosoewirjo masih dizhalimi sedemikian rupa? Tuntutan beliau yang
manusiawi tidak dipenuhi; makamnya disamarkan di Pulau Onrust; dan
dibuat catatan-catatan sejarah bohong seputar dirinya? Bukankah hal ini
merupakan kezhaliman besar atas diri beliau? Akhirnya, kezhaliman itu
terbongkar sudah, dengan dimuatnya foto-foto eksklusif seputar eksekusi
Imam Daarul Islam. Ibarat menyembunyikan bau busuk, lama-lama akan
tercium juga.
[9]. SM. Kartosoewirjo rahimahullah tidaklah ingin
membubarkan NKRI, tidak ingin keluar dari Indonesia, atau ingin
men-Daarul Islam-kan Indonesia. Tidak demikian. Beliau itu ingin
menegakkan pemerintahan otonom berdasarkan Islam. Jika pemerintahan itu
tegak, ia tetap berada dalam cakupan NKRI; hanya saja memiliki otonomi
untuk membangun wilayah dengan nilai-nilai Islam. Hal ini bukan tanpa
alasan. Alasannya ialah lemahnya bargaining Soekarno-Hatta di mata
Belanda (NICA). Mereka mau menanda-tangani perjanjian Renville dan KMB
(Konferensi Meja Bundar) yang isinya amat sangat melukai hati bangsa
Indonesia. Melalui Renville, wilayah RI hanya seputaran Yogya saja;
selebihnya wilayah RIS. Pasukan TNI harus ditarik ke Yogya semua,
sehingga hal itu membuka peluang bagi NICA untuk menguasai
wilayah-wilayah di luar RI. Melalui KMB, bangsa Indonesia harus mengakui
bahwa kemerdekaan RI merupakan hasil pengakuan dari Belanda; padahal RI
merdeka setelah berhasil mengusir Jepang dari Tanah Air. Belanda sejak
awal tahun 1940-an sudah diusir dari Indonesia oleh Jepang. Di sisi
lain, RI harus menerima beban hutang Belanda akibat terlibat dalam
Perang Dunia II dan perang-perang lainnya. Beban hutang ini tidak pernah
disampaikan oleh para sejarawan. Ekonom UGM, Revrisond Baswir sering
menyinggung posisi hutang peninggalan KMB ini. SM. Kartosoewirjo tidak
mau menerima semua perjanjian yang merusak bangsa dan negara itu. Tetapi
beliau lalu disudutkan sebagai “pemberontak”. Na’udzubillah wa
na’udzubillah min dzalik.
[10]. Di balik pendirian Daarul Islam, ada
satu SPIRIT yang tidak dipahami bangsa Indonesia, sejak dulu sampai
kini. Akibat tidak dipahami masalah ini, akibatnya sangat fatal. Bahwa
sejak awal, SM. Kartosoewirjo amat sangat membenci sikap tunduk kepada
penjajah; beliau tidak mau menyerahkan wilayah walau sejengkal saja
kepada penjajah. Beliau tidak mau dihina, karena harus “merdeka lewat
pengakuan Belanda”. Wong, sudah merdeka sendiri kok, masih harus
membutuhkan pengakuan Belanda? Beliau anti menanggung hutang-hutang
Belanda, karena itu sama dengan memikulkan hutan orang kafir ke punggung
anak-cucu sendiri. Tetapi tabiat beliau berbeda dengan Soekarno-Hatta
yang dididik oleh pendidikan penjajah di negeri Belanda sana. Beliau
tidak mau tunduk kepada penjajah, sedangkan Soekarno-Hatta suka dengan
penjajahan (dalam model berbeda). Akhirnya kini bangsa Indonesia di
zaman Reformasi (tahun 2012) ini bisa melihat, siapa yang lebih benar
sikap politiknya; Soekarno-Hatta atau SM. Kartosoewirjo? Di zaman ketika
kini bangsa Indonesia sudah dijajah di berbagai sektor oleh
negara-negara asing ini, mestinya kita harus menangisi hasil perjanjian
Renville dan KMB. Dua perjanjian laknat itulah yang menghantarkan bangsa
Indonesia kini kehilangan hakikat kemerdekaan, setelah sebelumnya
merasakan kemerdekaan.
[11]. Banyak orang bertanya-tanya: “Siapakah yang menyerahkan foto-foto eksklusif itu kepada Fadli Zon? Siapa dia?
Bagaimana ceritanya? Dan mengapa dia lakukan tindakan itu?” Saudaraku,
kita tidak tahu apa alasan hakiki si pemberi (penjual) foto itu. Tapi
kita yakin, dia pernah secara langsung atau tidak berhubungan dengan
orang-orang yang menjadi saksi eksekusi pada tanggal 5 september 1962
itu. Dia mungkin punya hubungan dengan kameramen yang membuat foto-foto
itu; atau dia berhubungan dengan pusat penyimpanan dokumentasi negara;
atau dia pernah secara mujur menemukan foto-foto itu berserakan sebagai
barang tak berguna, lalu dia lihat dan amati nilai historisnya, lalu
disimpannya. Yang jelas, sumber foto itu sangat ingin memberi tahu
bangsa Indonesia sejarah yang jujur tentang eksekusi SM. Kartosoewirjo
dan kebenaran seputarnya. Hal ini tentu karena ia telah digerakkan oleh
Allah Ta’ala untuk mengungkapkan sejarah yang sebenarnya. Begitu
gelisahnya sumber foto itu mendengar sejarah yang palsu dan penuh racun;
sehingga menjadi tugas kemanusiaan baginya, untuk mengungkap fakta
sebenarnya. Khusus bagi Bang Fadli Zon, beliau juga layak diberi pujian,
apresiasi, dan penghargaan atas pengungkapan fakta-fakta itu. Semoga
Allah Ta’ala memberi mereka balasan pahala sesuai kebaikan-kebaikan yang dilakukannya. Amin Allahumma amin.
Namun pujian dan apresiasi ini tidak berlaku bagi gerakan sempalan
NII yang faksinya bermacam-macam, lalu muaranya ke Ma’had Al Zaytun di
Indramayu, yang dipimpin oleh Abu Toto (Syech Panji Gumilang) itu. NII
model begini adalah termasuk aliran sesat-menyesatkan yang dibentuk oleh
infiltrasi penguasa, melalui tangan Ali Mutopo dan Pitut Soeharto. Apa
yang kita apresiasi ialah gerakan Daarul Islam asli, di bawah pimpinan
Al Ustadz SM. Kartosoewirjo rahimahullah, yang berdiri tegak di atas
missi politik Islami, latar belakang sejarah, serta spirit anti
penjajahan.
Sebagai penutup tulisan ini, dalam Al Qur’an Allah Ta’ala berfirman: “Wa tu’izzu man tasya’u wa tudhillu man tasya’u, bi yadikal khair innaka ‘ala kulli syai’in qadiir”
(dan Engkau -ya Allah- memuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan
Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki; di Tangan-Mu segala hakikat
kebaikan, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu). [Surat
Ali Imran].
Demikianlah, manusia-manusia jahat bermaksud menodai dan merusak
kehormatan SM. Kartosoewirjo rahimahullah; namun Allah dengan segala
cara-Nya hendak memuliakan hamba-Nya. Dia adalah Sang Mujahid Agung,
sosok kesatria yang rela mati sampai titik darah penghabisan, demi
membela cita-cita politik Islami. Bangsa Mesir memiliki mujahid Sayyid
Quthb rahimahullah; bangsa Libia memiliki Umar Mukhtar rahimahullah;
bangsa Rusia memiliki Imam Syamil rahimahullah; bangsa Palestina
memiliki Syaikh Ahmad Yasin dan Syaikh Izzudiin Al Qasam rahimahullah;
bangsa Pakistan memiliki Presiden Ziaul Haq rahimahullah; bangsa Turki
memiliki Najmuddin Erbakan rahimahullah; bangsa Suriah memiliki Ustadz
Marwan Hadid rahimahullah; maka kaum Muslimin Indonesia memiliki sosok
Mujahid Agung: Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo rahimahullah.
SM. Kartosoewirjo adalah sosok komandan militer, imam, sekaligus
ideolog Daarul Islam yang tiada duanya di dunia Islam. Nyaris tidak
dijumpai perjuangan dengan konsep Daarul Islam di masa lalu, di
negeri-negeri Muslim lain, selain hanya di Indonesia. Pemimpin-pemimpin
Ikhwanul Muslimin di Mesir, secara akidah mereka sepakat dengan konsep
Daarul Islam; tetapi secara perjuangan militer, mereka belum sampai
kesana. Ingatlah keistimewaan ini wahai Muslimin Nusantara!
Semoga sekilas tulisan ini bermanfaat dan menjadi refleksi iman dan sejarah, bagi kita semua. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.






0 komentar:
Posting Komentar